Sepakbola Itu Seni, Bukan Taktik

Juru Taktik asal Italia, Massimilliano Allegri baru-baru ini angkat bicara mengenai sanjungan orang-orang terhadapnya. Seperti diketahui, publik menilai Allegri sebagai sosok manajer yang memiliki strategi dan taktik jitu, akan tetapi mantan pelatih Juventus itu justru menegaskan bahwa sepakbola itu bukan taktik, tapi Seni.

Seperti diketahui, saat masih menangani Juventus, Allegri memang dikenal sebagai sosok manajer yang memiliki strategi jitu. Bahkan, bisa dikatakan tangan dinginnya membuat Bianconneri berhasil memenangkan lima Scudetto beruntun serta dua kali melangkah ke final Liga Champions Eropa. Total, Allegri telah mempersembahkan total 11 trofi dari berbagai kancah domestik.

Selama di Juventus, Allegri sudah mencoba beragam formasi, dari 3-5-2, 4-3-1-2, hingga terakhir 4-2-3-1. Selain itu, ia juga dikenal mampu mengubah posisi pemain seperti yang ia lakukan kepada Mario Mandzukic.

Akan tetapi, Allegri justru tidak percaya bahwa sepakbola itu soal taktik, melainkan Seni. Dalam artian, pelatih tinggal memberikan bola pada pemain kelas dunia seperti Ronaldo, Pirlo, Dybala atau Ronaldinho, sisanya biar mereka yang melakukan sesuka hati di atas lapangan.

“Ketika Bola menyentuh kaki Ronaldo, Dybala, Pirlo, Seedorf atau Ronaldinho, maka saya harus menaruh pemain lain di dalam satu posisi untuk memberikan bola kepada mereka. Begitu mereka mendapatkan bola, maka mereka lah yang menentukan apa yang harus dilakukan, mereka yang menentukan keputusan terbaik”

“Di Italia, taktik, skema, mereka semua adalah omong kosong. Bagi saya sepakbola adalah Seni, dan para pemain top adalah senimannya. Anda tak perlu mengajari mereka apapun, hanya perlu mengaguminya saja,” ujar Allegri kepada ESPN.

Lebih lanjut, Allegri juga ternyata salah satu sosok manajer yang sangat anti terhadap teknologi dalam sepakbola. Menurutnya, bantuan teknologi justru membuat kemampuan analisa pelatih jadi berkurang.

Allegri menilai, seorang pelatih memang harus menemani tim asuhannya di sisi lapangan, untuk bisa secara langsung membaca permainan sepanjang laga berlangsung.

“Seorang pelatih harus ada di sisi lapangan. Dia harus bernafaskan permainan, harus memahami kapan waktunya melakukan pergantian pemain, atau menarik pemain terbaik karena tim butuh pemain yang berbeda,” tandasnya.

“Persepsinya bisa berbeda dari sisi lapangan. Mereka membuat sepak bola seperti sains eksakta. Dalam kasus itu, pelatih bisa saja pergi ke bioskop. Bila anda membuat semua menjadi mesin, anda tak perlu lagi berpikir soal pemain,” tutupnya.